Seni Sakral
SENI SAKRAL
Dosen Pengampu : I WAYAN SAPTA
WIGUNADIKA S.Pd, M.Pd.
OLEH
I GEDE ARYA SEPTIAWAN
16.1.1.1.2.30
PENDIDIKAN AGAMA HINDU
JURUSAN DHARMA ACARYA
STAH NEGERI MPU KUTURAN SINGARAJA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah saya tentang “SENI SAKRAL ”.
Dalam kesempatan ini kami
mengucapkan terimakasih kepada Bapak, I Wayan Sapta Wigunadika S,Pd.M.Pd yang telah membantu dan membingbing
saya dalam penyusunan laporan ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan,
untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, guna
kesempurnaan makalah ini, sehingga makalah ini akan menjadi bekal pengalaman
bagi saya untuk lebih baik dimassa yang mendatang.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam
era globalisasi seperti sekarang ini, yang setiap harinya selalu mengalami
perubahan, di dunia kebudayaan khususnya kesenian mengalami suatu
perubahan-perubahan yang sangat menjolok utamanya dalam masalah aktivitas
cipta, ide, dan penggarapan kesenian. Hal ini tentu saja membawa suatu dampak
yang sangat besar terhadap perkembangan atau kehidupan kesenian khususnya pada
masyarakat di Bali dan pada umumnya di Indonesia. Perkembangan ini tidak saja
membawa suatu pengaruh yang positif , tetapi juga membawa pengaruh yang
negatif. Penyebabnya bukan mutlak bersumber dari dunia kesenian, akan tetapi bersumber pada pengaruh
global yang terjadi pada dunia modern ini. Karena pengaruh perubahan ini sangat
berdampak pada semua sudut kehidupan, bahkan tidak tertutup kemungkinan bagi
dunia kesenian.
Dari
permasalahan ini kita akan banyak mengetahui, apa yang terjadi pada dunia seni
di Bali yang telah tertata dengan teratur dan sesuai dengan kultur ketimuran
serta dibingkai oleh norma-norma agama dan budaya keHinduan yang sangat kental.
Dalam masyarakat Bali tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya kesenian kita
sangat kuat mengakarnya karena keterkaitannya sangat lekat dengan kehidupan
keagamaam, terbukti semakin menjamurnya pementasan kesenian sakral dalam setiap
pelaksanaan upacara agama seiring pula dengan perkembangan kehidupan
perekonomian masyarakat Bali yang semakin membaik. Perkembangan ini justru
membawa perubahan yang positif, karena dengan seringnya diadakan pementasan
seni sakral pada setiap upacara keagamaan maka banyak pula generasi muda
mengandrungi untuk mempelajari kesenian sakral dengan berbagai alasan seperti
alasan ekonomi, ngayah, dan berseni murni. Dimana pengertian seni sakral itu
sesungguhnya merupakan suatu karya seni yang disucikan oleh pendukungnya,
pemeluknya, maupun penyungsungnya untuk dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Atas
terjadinya perubahan atau pengaruh zaman modern yang sedemikian pesat maka
pengetahuan seni sakral sangat diperlukan bagi Umat Hindu, karena seni sakral
merupakan bagian dari kegiatan keagamaan yang bersumber pada lontar-lontar atau
buku-buku keagamaan. Ditinjau dari jenis-jenis seni yang ada di Bali, maka
jenis-jenis seni yang dikategorikan sebagai seni sakral sangat banyak, salah satunya yaitu Tari Rejang. Yang
mana pengertian Tari Rejang itu adalah tarian yang sacral. Penarinya adalah
wanita mereka menari beriring-iringan/berbaris melingkar di halaman pura
mengitari tempat suci atau dimana pratima-pratima itu ditempatkan.
I.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah Fungsi Seni ?
1.2.2 Apakah Fungsi Kesenian di Bali ?
1.2.3
Bagaimana sejarah / sumber seni sacral
?
1.2.4
Apakah Jenis Jenis Seni sacral ?
I.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari pembuatan paper ini yakni:
1.3.1
Untuk mengetahui Fungsi Seni.
1.3.2
Untuk mengetahui apa Fungsi Kesenian di
Bali.
1.3.3
Untuk mengetahui Sejarah/ sumber seni
sacral.
1.3.4
Untuk mengetahui jenis jenis seni
sacral.
I.4 Manfaat
Adapun
manfaat dari pembuatan paper ini yakni:
Dapat
mengetahui fungsi dari seni sakral.
Dapat
mengetahui apasumber seni sacral.
BAB
II
PEMBAHASAN
II.1 Fungsi Seni
Sebelum membicarakan tentang fungsi seni
mari kita alihkan pikiran kita pada NILAI. Seni mempunyai nilai sehinga dikejar
oleh manusia, Karna seni dapat memuaskan keinginan manusia sehingga disukai dan
dinikmati oleh manusia. Nilai adalah keberhargaan, keunggulan, kebaikan yang
timbul dari kegiatan manusia atau yang melekat pada suatu hal. Dengan melakukan kegiatan itu atau memiliki
hal itu ( nilai ) maka manusia memperoleh nilai yang didambakan.
Nilai dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
:
1. Nilai
ekstrinsik yaitu nilai yang dikejar manusia demi sesuatu tujuan yang ada diluar
kegiatan yang dilakukan
Contoh : seseorang bekerja ( bekerja seni ) demi
untuk memperoleh penghasilan untuk memenuhi keperluan hidupnya ( sandang,
pangan, papan. ).
2. Nilai
instrinsik yaitu nilai yang dikejar manusia demi nilai itu sendiri karena
kenerhagaan, keunggulan, atau kebaikan yang melekat pada nilai itu sendiri.
Contoh
: seniman menggumuli suatu seni karna
keberhargaannya, kebaikan, atau keunggulan yang terdapat pada seni itu sendiri.
Fungsi Seni :
A. Fungsi
Spiritual
Pada
jaman dahulu ( prasejarah ) memuja para dewa dan roh dengan memukul gendang dan
bernyanyi.
Jadi
seni music memiliki fungsi kerohanian untuk mendekatkan diri dengan para dewa
yang dipujanya, lalu dilanjutkan dengan mementaskan tarian tarian pemujaan.
Contoh
: adanya nekara pejeng ( pada jaman
dahulu berfungsi untuk memohon hujan, dan sebagai gendang perang. )
B. Fungsi
Kesenangan
Pada
suatu saat mungkin sekelompok orang menabuh, bernyanyi, dan menari tidak dalam
rangka melakukan pemujaan kepada dewa, melainkan sedang gembira hatinya.
Seni
yang berfungsi sebagai kesenangan berkembang pada jaman modern ini. Fungsi
spiritual dari seni dan music berkurang. Kini banyak orang menikmati seni,
seperti ; seni sastra, patung, lukis, dan drama hanya demi kesenangan semata
mata.
C. Fungsi
Pendidikan
Seni
dikatakan berfungsi sebagai pendidikan karena dapat menjangkau beberapa hal
seperti : keterampiloan seseorang, kreativitas, emosional.
Misalnya
: dengn berlatih diri untuk melakukan suatu seni yaitu seni lukis, seseorang
dapat melatih tangannya dan ketajaman penglihatan. Latihan dapat memperbesar
daya khayalan sehingga menjadi lebih kreatif.
D. Fungsi
Komunikatif
Seni
dikatakan memiliki fungsi komunikatif
karena dapat menghubungkan budi pikiran seseorang dengan orang lain.
Orang usia lanjut dengan orang muda dapat bertemu melalui seni, pria dan wanita
dapat berhubungan dengan landasan yang sama berupa seni.
Bahkan
orang orang/ seniman yang hidup berabad abad yang lampau dan ditempat yang jauh
dapat berkomunikasi dengan melalui karya seninya yang ditinggalkannya.
II.2 Fungsi Kesenian Bali
Pada
intinya kesenian bali mempunyai fungsi yang sangat sacral, karena pada
penciptaan karya seni Bali pada awalnya hanya untuk kepentingan kegiatan
keagamaan semata. Serta disesuaikan dengan sumber tattwa atau sastranya. Maka
sangatlah beralasan apabila kesenian Bali adalah suatu kegiatan Nyolahang Sastra.
Ungkapan
tersebut mengandung makna kesenian Bali dipentaskan bertujuan untuk
mensosialisasikan ajaran agama Hindu yang bersumber pada ajaran Weda dan
Itihasa.
Dengan
mempergunakan media seni maka secara tidak langsung penonton dapat menyerap
ajaran agama Hindu yang disampaikan oleh para seniman dalam pementasannya.
Agama dan kesenian sangatlah menyatu, sehingga jika kita tidak memahami kedua
unsure tersebut maka kita akan sulit menelaah hal tersebut. Ibarat sebuah
adonan yang mempunyai berbagai rasa yang mengenakkan. Dari sinilah lahir fungsi
ganda kesenian Bali.
Adapun fungsi Kesenian Bali setelah
diadakan pengklasifikasian, sesuai tersebut dalam seminar seni sacral pada
tanggal 24 Maret 1971 di Denpasar yang diadakn oleh Proyek dan Pengembangan
Kebudayaan Daerah Bali. Pembagian Tari Bali menurut fungsinya antara lain :
a. Seni
Tari Wali ( sacred, Religious dance ) yaitu seni tari yang dipertunjukkan di
Pura Pura dan tempat yang ada hubungannnya dengan kegiatan upacara agama.
Kesenian ini tidak memakai lakon, seperti tari rejang, tari pendet, tari sang
hyang , dan tari baris upacara.
b. Seni
Tari Bebali ( Ceremonial Dance ) seni tari yang berfungsi sebagai pengiring
upacara atau upakara yang bertempat di Pura ataupun diluar Pura, serta
mempergunakan Lakon. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi seni Bebali adalah
: seni pewayangan, topeng, gambuh, serta segala seni tari yang diciptakan
berlandaskan ketiga tarian tersebut.
c. Seni
Tari Balih-Balihan ( secular Dance) yaitu segala unsure seni tari yang memiliki
unsure dasar yang luhur. Dalam hal ini tidak termasuk kedalam unsure wali
maupun Bebali. Cirinya bersifat inovasi dan konteporer. Adapun yang termasuk kesenian
balih balihan adalah semua aktifitas seni yang bertujuan untuk hiburan
masyarakat.
II.3 Sejarah dan Sumber Seni Sakral
Setiap suatu kegiatan yang telah
mengakar pada suatu masyarakat tertentu dan dilaksanakan secara rutinitas
sampai membentuk suatu keyakinan, tentu ada yang melatar belakangi. Sehingga
keyakinan itu dilaksanakan dengan kontinyu dalam setiap kegiatan keagamaan dan
kemasyarakatan dengan khusyuk.
Keyakinan umat hindu yang
menghormati seni sacral tentu memiliki alas an yag sangat kuat. Alas an
tersebut didasari oleh beberapa pertimbangan yang matang dan telah teruji oleh
ruang dan waktu dari masa lampau hingga kini. Pertimbangan tersebut adalah
sebagai sumber penguat dan pegangan masyarakat dalam bertindak.
Ada beberapa sumber sastra atau
mitologi seni sacra di Bali yaitu sebagai berikut :
1. Lontar
Barong swari dan Purwagama sesana.
2. Lontar
Kecacar dan Tantu Pagelaran
3. Lontar
Topeng Sidhakarya.
4. Lontar
Kanda Pat.
5. Lontar
Dharma Pewayangan.
6. Lontar
Prakempa.
7. Siva
Nataraja.
II.4 Jenis-Jenis Seni Sakral
Untuk mempermudah
mengklasifikasikan, menurut yudha Bhakti (2007:67) seni dibagi menjadi 4 :
ü Seni
Tari
ü Seni
Karawitan
ü Seni
Pewayangan
ü Seni
Rupa
Ø Seni
Tari
1. Pendet
Adalah tarian yang dipentaskan oleh pria maupun wanita, penarinya membawa alat
alat pesucian, pengreresikan, canang sari dll. Penarinya sedapat mungkin
terdiri dari Deha Truna yang belum kawin atau yang sudah mawinten.
2. Tari
rejang adalah tarian sacral yang ditarikan oleh wanita dimana mereka akan
beriringan melingkar dihalam pura mengitari tempat suci ataupun tempat pratima
ditempatkan.
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
-
Fungsi seni adalah :
a. Fungsi
spiritual. C.
Fungsi Pendidikan
b. Fungsi
kesenangan d.
Fungsi Komunikatif
-
Fungsi Kesenian Bali.
- Seni
Tari Wali ( sacred, Religious dance ) yaitu seni tari yang dipertunjukkan
di Pura Pura dan tempat yang ada hubungannnya dengan kegiatan upacara
agama. Kesenian ini tidak memakai lakon, seperti tari rejang, tari pendet,
tari sang hyang , dan tari baris upacara.
- Seni
Tari Bebali ( Ceremonial Dance ) seni tari yang berfungsi sebagai
pengiring upacara atau upakara yang bertempat di Pura ataupun diluar Pura,
serta mempergunakan Lakon. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi seni
Bebali adalah : seni pewayangan, topeng, gambuh, serta segala seni tari
yang diciptakan berlandaskan ketiga tarian tersebut.
- Seni
Tari Balih-Balihan ( secular Dance) yaitu segala unsure seni tari yang
memiliki unsure dasar yang luhur. Dalam hal ini tidak termasuk kedalam
unsure wali maupun Bebali. Cirinya bersifat inovasi dan konteporer. Adapun
yang termasuk kesenian balih balihan adalah semua aktifitas seni yang
bertujuan untuk hiburan masyarakat.
III.2 SARAN
-
SARAN :
Setelah
membuat makalah ini diharapkan masyarakat Hindu di Bali agar memahami peran seni
sebagai rangkaian upacara yadnya dan juga hiburan dalam masyarakat tidak di salah gunakan ke arah yang berbau
perjudian ataupun hal yang buruk..
Komentar
Posting Komentar